Apakah jarak pernah sedekat jari telunjuk dan jempol?
Apakah pernah awan kita satu?
Apakah nafas kita seirama?
Apakah aku, kamu, satu? Menyatu?
“Kamu udah pesan?” Tanyamu ketika datang ke restaurant sejam lebih lama dari janji kita.
Aku mengangguk dan menemukan senyummu di bibir yang selalu aku lukis rindu. Dulu.
“Maaf ya aku telat. Tadi aku harus nganterin Fira dulu ke kampusnya.”
Dan disitulah aku membiarkan angin menampar-nampar wajahku. Namun, tidak ada yang berani menyadarkan hatiku dari kebodohan ini.
“Kamu katanya mau ngomong? Aku pesan dulu ya.”
Kamu memanggil waiters perempuan yang sedang melirik ke arah kita. Saat menu diberikan, tangan kalian bersentuhan. Dan aku iri. Iri yang sebenarnya iri. Sudah beralpa lama aku berteriak dalam diam ini?
Seakan kamu membaca pikiranku, kamu menyentuh tanganku, mendiamkan sejenak semua teriakan kecil itu.
“Kamu kenapa?” tanyamu dengan raut muka khawatir.
“Kamu tidak berubah ya….” Bukan itu yang ingin aku bilang, namun kadang pikiran dan kata tidak pernah sama.
“Aku memang seperti ini.”
“Tapi kenapa?”
“Karena aku tidak ada alasan untuk berubah.”
“Demi siapapun?”
“Demi apapun.”
“Kenapa kita putus?”
“Karena kamu menginginkan aku berubah, sementara aku tidak bisa.”
“Tidak ingin.”
“Tidak bisa.”
——-
Dan sekarang, kamu duduk di sampingku, 5 tahun setelah percakapan terakhir kita. Kamu berubah.
Semua sosok yang aku inginkan, memang masih tidak ada di dirimu. Tapi kamu bukan dirimu lagi.
“Kenapa kamu seperti ini?”
“Karena aku berubah, seperti yang orang-orang inginkan, seperti yang mereka tuntut, seperti yang kamu inginkan dulu dan aku tidak bisa.”
“Tapi akhirnya kamu bisa berubah … “
“Menurutmu, kenapa awan kita tidak pernah sama?”
“Mungkin karena kita tidak pernah mengucap kata ‘tunggu’ pada sesama.”
Tags: aku, awan, kamu, menyatu, seirama
Commented!