Ada tangis di ciuman ini…

Papa tidak pernah menunjukkan kemesraannya dengan mama di depan anak-anaknya. Namun hari itu beda. Sangat berbeda.

Papa terbaring di tempat tidur rumah sakit. Sudah 1 bulan. Penyakit yang menghinggapinya sudah menggerogoti tulang sumsum di pundaknya. Beliau kesakitan hebat, tidak bisa bergerak, tidak bisa tidur dengan tenang, tidak bisa terlelap. Satu sentuhan saja dia sudah merasakan sakit. Dan luka di punggungnya hanya sebagian peran kecil yang ikut menyakiti tubuhnya.

Aku berdoa. Kami berdoa. Semuanya hanya pasrah dengan keadaan. Tuhan terasa semakin dekat. Aku sampai tidak berani berpikir dan tidak berani berkata-kata, takut Dia semakin mendengar dan mengabulkan.

Hanya satu yang berani aku sebutkan “Sembuhkan Papa dan kembalikan dia di pelukan keluarga kami.” Namun doa yang satu itu sepertinya tidak didengarkanNya. Dia memilih rencana lain.

Hari itu, Papa akan dioperasi tulang sumsum belakang mengeluarkan daging yang menghimpit syarafnya. Hari itu hari besar menurut kami. Kami tidak berhenti berdoa. Namun Papa malah tertawa bahagia. Dia terlalu kesakitan sampai tidak tahu apa-apa dan tidak tahu akan dioperasi. Dan kami hanya merekam tawanya.

Papa sudah lama menanyakan Mama. Mama dimana? Apa kabar Mama? Semenjak di rumah sakit, Papa memang tidak pernah bertemu dengan Mama. Namun hari ini, Mama ingin datang. Sehingga kami harus mempersiapkan waktunya.

Saat itu, waktu adalah makan dan minum obat lebih awal.

Mama datang dengan kursi rodanya. Papa pun mengungkapkan kangennya. Aku menahan diri untuk tidak nangis di sedikit kebahagiaan itu. Kami bercerita tentang entah. Aku saat itu hanya menangkap ekspresi dan wajah ceria Papa dan Mama disetiap detik.Tidak mau kehilangan.

Ketika operasi sudah mau dimulai, Papa memohon Mama untuk tidur disampingnya. Sesuatu yang tidak mungkin. Namun Mama meng-iyakan.

Mama pamit. Tapi Papa enggan. Mama pun menyuruh Papa untuk istirahat, dan beliau mengangguk.

Sebelum tidur, Papa menyuruh Mama mendekat. Kami dekatkan kursi roda Mama di sisi kanan Papa. Papa memegang tangan mama.

Mereka mencapai titik dimana cinta dan sayang tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata.

Saat itu, entah kekuatan dari mana, Papa mempererat pegangan di sisi tempat tidurnya, mengangkat badannya yang penuh dengan luka dan perban, melewati tiang tepian tempat tidur, mendekatkan wajahnya ke wajah Mama dan mendaratkan satu ciuman abadi di bibir Mama. Di depan kami. Untuk pertama kalinya.

Dan tangis pun pecah.

– Love sees no pain and feels no wound. 

Advertisements

11 thoughts on “Ada tangis di ciuman ini…

  1. eh, kalimat pertama di atas, kayaknya bukan “penyakit yang dihinggapinya”, tapi “penyakit yang menghinggapinya”. logikanya gini, seandainya penyakit = dahan pohon, dan ayah = burung, berarti kalimat ini artinya: burung yang dihinggapi dahan pohon. heuheu.

  2. Apaan siih ini deeek…huhuuww…naahan” nangis ini bacanya..jdi keinget lgi..romantis bngeett saat itu ƪ(‾̣̣̣̥ε‾̣̣̣̣̣̣̥“)ʃ …. Tapi jdi kangen dgn kenangan papa yaa…hiks

  3. Pingback: #15daystowriteinablog « Dona go Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s