Seorang Malam

Sabtu, 1 Oktober 2011 @ 4pm

Hari ini aku akan bersiap lebih awal.  Aku sudah sepakat sama awan untuk membuat malam ini cerah, tanpa hujan dengan beribu bintang dan bulan sabit. Lalu aku juga sudah deal sama angin untuk memberikan kesejukan tanpa badai. Dan matahari sudah berjanji sama aku bahwa dia akan datang sedikit lebih lama.

Di kota ini, aku melihat cewek-cewek yang berusaha tampil ‘wah’ dengan wangi-wangian yang bisa membuai para pria. Lalu pria pun tidak mau kalah, mereka menata rambut dan bajunya agar terus-terusan dilirik cewek. Ah, indahnya. Persiapan menantiku selalu lebih dari menanti yang lain. Mereka berusaha menunjukkan kepadaku bahwa merekalah yang berhak dipuji olehku.

Orang-orang selalu berjanji atas namaku, berdandan menanti aku dan mencari kegembiraan padaku.

Aku menikmatinya. Tidak sia-sia aku menciptakan hari yang sangat spesial bagi mereka.

Sudah menunjukkan pukul 5 sore. Jalanan semakin macet. Tapi mereka masih ceria, sebentar lagi mereka akan menikmati aku. Aku pun bernyanyi. Senang dengan cuaca dan angin yang tidak mengecewakan aku. Lihatlah, mereka gelisah namun tetap sabar.

Restoran penuh. Mendadak semua orang lapar pukul 7 ini. Dari fast food, restoran mewah sampai warung kaki lima, semuanya penuh dan sibuk. Aku melihat pasangan yang mengutuk-ngutuk karena tidak dapat meja. Dan mereka sebenarnya tidak lapar, namun hanya ingin melepaskan kemesraan. Ah, aku jadi tidak tega. Mungkin malam ini mereka akan mengutukku. Aku mencoba mengalunkan lagu lembut untuk mereka berdua. Lambat laun mereka menikmatinya.

Aku pun melirik jam. Sudah hampir pukul 9, tidak ada yang ingin pulang. Mereka masih belum puas. Angin pun semakin memberikan sejuknya. Aku tertawa bersama angin, melihat pasangan itu semakin akrab dan mesra, dipeluk oleh pasangannya. Lalu mereka melanjuti acara dengan menonton. Antrian yang panjang tidak mengurungkan niat mereka. Pasangan-pasangan itu semakin akrab dan semakin mengenalkan diri lebih dalam.

Ah, biarlah, kubiarkan saja mereka terus dengan pasangannya. Aku pun mengobrol bersama awan. Dia benar memberikan bintang dan bulan sabitnya. Aku memeluknya, mengucapkan terima kasih.

Aku tersentak. Sudah pukul 11.20 malam. Aku ketiduran. Tidak sempat melihat akhir dari ceritaku. Ah, ini pasti gara-gara aku memeluk awan. Dia begitu empuk sampai aku tidur dipelukannya. Huh, awan!

Tapi aku senang. Hari ini semua orang bahagia. Mereka pulang dengan senyum merekah, bahagia di hati dan berharap mimpi indah akan menutup harinya. Aku pun ingin pulang, sudah waktunya beristirahat. Biarlah mereka yang ingin melanjuti aku sampai pagi.

Eh, tapi itu suara apa? Kenapa ada suara tangisan? Aku melihat ke dalam rumah dimana suara itu berasal. Aku mengintip dari balik jendela. Kamar pink dengan lampu kuning. Baju dress warna tosca, make up yang sudah luntur. Di lantainya sudah berserakan gelas dan kertas poto yang sudah dikoyak. Dan dia pun mengutukku “Malam minggu sialan….!! Semuanya berantakan.., kenapa sih harus malam minggu ini aku diputusin!! I hate this night!”

Dan aku pun lemas mendengarnya. Aku pulang dengan sebutir tangis dipipiku. Kali ini gagal lagi. Selalu ada yang sedih malam ini. Tidak pernah sempurna. Aku berjalan menunduk dengan langkah lemas, kembali ke alam.

Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku dari belakang.

“Kamu jangan sedih, tenang saja, mereka tidak akan mengutukmu lebih lama. Besok pasti mereka mengutukku. Aku sudah biasa dikutuk dan dicaci. Dari ibu rumah tangga, anak-anak sekolah sampai para pekerja. Mereka pasti kesal dengan aku.”

“Kenapa?” tanyaku terisak.

“Karena aku.. Malam Senin.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s