Dear My Super Mom

Dear Mama,

Ini surat pertamaku untukmu, kepada Mamaku yang tercantik. Banyak sekali yang ingin aku tanyakan kepadamu. Tapi aku tidak berani menanyakan langsung kepadamu. Aku tidak berani melihat mata teduh dan senyuman terindahmu, membuatku kehilangan kata-kata. Kamu berkali-kali mengalihkan duniaku, Ma.

Ma, kenapa hanya kamu yang punya pelukan terhangat? Menurutku, itu tidak adil. Pada saat aku jatuh dan menangis, pelukanmu adalah obat. Ketika aku bertahun-tahun mengejar karier dan terpisah denganmu, pelukanmu adalah candu.  Aku harus berlomba dengan waktu, bekerja lebih dan menyimpan uang untuk pelukan terhangatmu hanya untuk beberapa hari atau minggu. Cuma kamu yang menyimpan sebuah kehangatan bertahun-tahun lamanya.

Ma, kenapa hanya cuma kamu yang punya kata magis “semuanya akan baik-baik saja.” Ketika yang lain berlomba-lomba untuk meyakinkan aku bahwa kegagalan itu adalah keberhasilan yang tertunda. Atau ketika aku berkali-kali putus cinta dan teman memelukku lalu bilang semuanya akan baik-baik saja. Mereka tidak bisa menenangkanku. Mereka tidak bisa membuatku berhenti menangis. Aku pikir, kamu adalah hipnotis terhebatku.

Dan ini yang membuatku heran, kenapa kamu bisa tahu kapan aku sakit? Padahal kamu tidak pernah tahu bahwa aku tidak tidur karena menangisinya, lelaki yang pernah meninggalkan hatiku. Atau kamu tidak tahu bahwa semalam aku kehujanan, atau ada lembur seharian di kantor, atau lupa makan siang. Kamu bahkan tidak bisa merasakan badanku yang panas melalui  telepon. Kamu memang peramal ulung, dan penyembuh sakitku.

Kenapa kamu bisa masak masakan terlezat di dunia tanpa masuk tv? Atau menyandang embel-embel “chef” di depan nama mu. Sudah jelas sekali aku mengikuti resepmu step-by-step, takarannya sempurna, bahkan aku menunjukkan semua bahannya sebelum diolah. Tapi berkali-kali aku dan kakakku geleng-geleng kepala setelah makan. “Kalau mama masak, kenapa lebih enak ya? Bumbunya lebih berasa. Aromanya keluar.” Berkali-kali kami coba membuktikan kepadamu kalau kami bisa memasak sepertimu, berkali-kali kami merasa “masih kurang”. Dan kamu tau apa yang “masih kurang” itu, kamu bilang itu adalah adukannya, atau cara menggilingnya, atau ikannya yang kurang fresh dan semuanya kamu bilang tanpa melihat kami memasak. You are the Master Chef.

Sebenarnya, aku malu untuk menanyakan ini, Ma. Kenapa kamu bisa tahu ketika aku berbohong kepadamu? Sudah berbagai alasan aku kumpulkan untuk menutupi kebohonganku. Kebohongan yang kecil atau pun yang besar. Kamu tetap saja tahu. Kamu bahkan tahu saat aku membohongi diriku sendiri. Saat aku bilang bahwa aku tidak mencintai laki-laki itu, kamu bilang tetap kejar dan maafkan dia. Andai aku bisa mempunyai mata yang bisa melihat semua kebohongan di dunia ini. Aku mungkin tahu saat kamu berbohong bahwa kamu ‘tidak lapar’ ketika kamu menyuapkan aku nasi. Aku mungkin tahu saat kamu berbohong kamu ‘tidak mengantuk’ saat membantuku mengerjakan PR ku. Aku juga mungkin tahu saat kamu berbohong bahwa kamu ‘tidak sakit’ ketika kamu sudah beberapa kali bolak-balik ke dokter. Ma, jangan lagi berbohong di depanku.

Ini kisah cinta terindah yang pernah aku lihat, dimana kamu  menemukan lelaki terhebat menjadi pendamping hidupmu? Jangan kamu mulai menghitung berapa banyak laki-laki yang dekat denganku, Ma. Karena aku malu pernah membawa laki-laki yang salah ke rumah dan memperkenalkannya kepadamu. Sebagian dari mereka tidak pantas bertemu denganmu. Ma, kamu bilang bahwa ketika kamu berada di dekat Papa, hatimu masih bergetar, jantungmu berdegup kencang walaupun setelah beberapa tahun menikah. Aku belum menemukan lelaki seperti itu, Ma.

Kenapa kamu masih bisa tersenyum ketika aku beberapa kali melukai hatimu? Berapa kali aku tidak mendengar kata-katamu dan mengikuti kemauanmu. Mungkin harapanmu sudah berkali-kali hancur oleh kelakuanku. Mungkin kamu tidak menyangka bahwa anakmu memiliki sikap yang buruk terhadapmu. Kamu masih juga tersenyum kepadaku, bahkan bisa memberikan senyuman yang tercantik.

Kenapa kamu masih bisa bangga ketika aku belum memberikan apa-apa kepadamu? Di saat anak lain telah membelikan rumah untuk orang tuanya, menikah dan memberikan cucu kepada orang tuanya, kamu tidak pernah cemburu. Kamu masih saja membanggakan diriku di depan teman-temanmu yang lain. Aku ini belum bisa memberikanmu apa-apa, Ma. Aku malu. Saat aku bilang “Ma, mungkin belum saatnya kamu menceritakan tentangku kepada teman-temanmu.” Kamu malah tersenyum dan bilang “Cerita apa lagi yang bikin aku bangga selain menceritakan tentang dirimu?”

Kenapa kamu tidak pernah capek? Terkadang hidupku tidak berjalan sesuai rencana. Bukan terkadang tapi sudah beberapa kali. Aku telah gagal, jatuh dan gagal lebih dalam lagi. Tapi saat aku mendengar ceritamu bekerja, mencari duit, menghidupi 3 orang anak, mendampingi suami, memenuhi kebutuhan semua keluargamu, kamu tidak pernah mengeluh capek. Kali ini kamu tidak bisa berbohong kepadaku, Ma. Aku tahu kamu capek.

Dan ini pertanyaan terakhir dariku, Ma. Kenapa kamu mempunyai hati yang kuat? Kalau kata orang, hati seorang ibu itu terbuat dari baja, tidak akan hancur. Aku percaya itu. Aku punya buktinya. Hati kamu adalah yang membuat kami semua mencari perhatianmu dan menyisihkan waktu untuk bercerita denganmu. Hati kamu yang membuat keluarga kita menyatu. Hati kamu yang membuat kami untuk terus mendoakan kamu agar bisa bersama kami lebih lama lagi.

Ma, bertahan disini.

Jangan menyerah oleh rasa sakit. Karena kami hanya punya dirimu untuk bertahan. Karena kami mungkin masih perlu waktu untuk membuatmu bangga. Karena kami masih ingin mengerti lebih banyak lagi tentangmu. Karena kami ingin belajar dari semua jawaban yang aku tanyakan diatas. Karena kami masih ingin berada di dekatmu. Karena kami tidak yakin bisa melihat ke hari yang cerah saat tidak berada di dekatmu.

Ma, biarkan kami yang menggantikan peranmu. Biarkan kami yang berdoa untukmu. Karena kami tahu, kamu masih saja mendoakan kami untuk mendapatkan yang terbaik.

Yang terbaik itu kamu, Ma.

Always love with thousand kisses,

Yourlittledaughter.

Advertisements

2 thoughts on “Dear My Super Mom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s