Unspoken Words

Kepada Kata yang Tak  Terucap,

Aku membencimu.

~

Dear D, 

Oktober 2009. 

Satu kabar dari kamu, yang jauh bekerja di negeri tulip. Sudah 2 tahun lebih aku tidak mendengar kabar darimu, 2 tahun aku mencari-cari sosok yang sama seperti kamu, 2 tahun itu juga aku merasakan kehilangan, kekecewaan, mimpi yang berantakan dan cinta, cinta itu sampah! Seperti kamu mencampakkan diriku sebelum kamu berangkat ke sana. 

Dengan gaya bicaramu yang lembut, kamu bilang “Aku masih memikirkanmu, maukah kamu menikah denganku?”

Aku langsung menjawab tidak. 

Sesaat menutup telepon darimu, aku menangis. Menangis bahagia, menangis terharu, menangis menyesal, menangis penuh kehilangan. Entahlah. Yang ku tahu, aku sudah berubah, tidak lagi gadis lugu, penurut yang seperti kamu kenal dulu. Aku sudah berpacaran dengan beberapa lelaki setelah kamu meninggalkanku. Aku pernah menangis di depan mereka. Tapi aku pernah tertawa gila bersama mereka. Mereka punya kisah sendiri di hatiku. 

Aku sudah berubah, aku ingin kamu melihat itu, mendengar semua kisahku. Dan mungkin menerimaku apa adanya. 

Tidak, aku tidak mau kamu melamarku lewat telepon, lamarlah aku di depanku dengan kenangan dan ceritaku yang sekarang. 

December 2009. 

Hari ini kamu menikah. Dengan gadis lain yang langsung menjawab iya. 

~

Jangan pernah menggangguku lagi.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s