A Confession Letter

Hey kamu!

Kangen ya. Aku senang kamu masih mau berteman denganku. Entah apa orang bilang tentang dua orang mantan yang berteman. Pernah dengar kata-kata ini?

“Jika sepasang mantan kekasih tetap berteman, mereka entah masih saling mencintai atau tidak pernah saling mencintai.”

Aku memilih entah. Karena aku pernah mencintaimu, tapi tidak bisa mencintaimu lagi. Ah, kamu pasti malas mendengar kata-kata cinta. Masih mencari arti cinta itu sendiri atau sudah ketemu?

Aku ingin bilang kepadamu, bahwa aku pernah salah. Iya, aku mau mengakui kesalahanku sekarang. Aku pernah begitu salah kepadamu. Aku tahu kamu pasti bilang tidak apa-apa, tapi yang aku lihat sekarang, semuanya berbeda. Kamu seperti orang yang begitu kehilangan arah, terombang ambing di tengah laut, mengikuti arus, mengikuti ombak, mengikuti angin dan enggan berlabuh.

Aku sedih melihatmu. Saat ku tanya kamu tentang siapa wanita yang berada di sampingmu sekarang, kamu selalu menjawab “Dia.” Dan kamu langsung mencari cara untuk mengalihkan pembicaraan kita. Kamu malah menggodaku dan mengenang cerita lucu tentang kita.

Oh iya, aku lupa, salah. Salahku sebenarnya fatal, menurutku. Pernah dengar kan cerita “cupid” jahat yang mencoba untuk memisahkan dua pasangan yang seharusnya berjodoh. Tapi disini ceritanya berbeda, kamu malah jatuh cinta dengan si cupid dan cupid pun membalas cintamu.

Begitulah kita. Ingat dulu pertama kali kita jadian? Aku sungguh asyik dengan perasaanku dan melupakan sejenak tentang wanita yang menangis karena dikhianati cinta. Kamu tidak sadar akan hal itu, karena aku…

Aku menutup matamu dengan kedua tanganku, menemani harimu dengan kehangatanku, memelukmu erat sehingga kamu terbuai. Akanku. Akan cintaku. Kamu lupa akan dia, wanita yang menjadi tambatan hatimu bertahun-bertahun. Wanita yang kamu kenal dari kecil, yang menemani kamu setiap hari, yang juga memelukmu tapi penuh kelembutan. Wanita yang seharusnya menjadi pendampingmu, selamanya.

Maaf, aku begitu jahat memisahkan antara kamu dan dia. Jujur, aku tidak pernah langsung menyuruhmu untuk memilihku. Permainanku tidak segampang itu, aku membuatmu terbuai berlama-lama dengan kehadiranku. Menyuntikmu dengan cerita dongeng sang putri dan pangeran. Membiusmu dengan kecupan-kecupan malam. Lalu membuatmu tidak berkutik, meluluh lantakkan benteng hatimu. Sehingga kamu tidak mempunyai pilihan.

Maafkan aku ya, maafkan aku atas kesenanganku untuk mencintaimu. Walaupun cinta kita hanya beberapa bulan purnama, tapi kamu salah satu alasanku untuk tertawa di dalam hidupku. Kamu pernah bilang “Aku menikmati sakit hati, aku menikmati prosesnya, aku menikmati sakit yang aku rasakan karena begitu berani mencintai seseorang.”

Tidak ada yang pernah begitu menikmati sakit hati, kecuali dirimu. Dalam sakit itu kamu mau berlama-lama menghabiskan waktu bersamaku, mengenalku, mengajakku mengecup rasa-rasa hidup.

Sekarang, aku tidak akan pernah melepas panah cupid ku untuk diriku sendiri. Aku kembalikan panah itu untuk dia, wanita yang sebenarnya kau cintai. Kan kucabut mantra itu dari dirimu. Aku tidak pernah memilihmu dan tidak pernah seutuhnya memilikimu.

Terima kasih atas kenangan kita, terima kasih atas waktumu, sekarang, kembalilah ke Dewi-mu.

Untuk sebuah kenangan di Malaysia, Agustus 2008.

Advertisements

2 thoughts on “A Confession Letter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s