Soulmate?

Pernah ada yang menanyakan padaku, “kamu percaya dengan soulmate?”

Aku memperhatikan seorang pria yang lebih tua dari ku, berperawakan chinese dan tinggi, yang melontarkan pertanyaan itu kepadaku. Dia bekerja sebagai make up artist di salon yang aku datangi saat itu. Aku gak tahu apa dia sekedar berbasa-basi atau memang hobi menanyakan pertanyaan ke orang yang baru dikenal atau memang benar-benar ingin tahu jawabannya.ย Kata temanku, dia sudah pernah menikah dan sudah cerai. Jadi apa dia menanyakan maksud dari hidupnya selama ini kepadaku? Kepadaku? Entahlah.

Saat itu aku berumur 19 tahun, tahu apa aku tentang soulmate? Jajan aja masih minta sama orang tua, masa udah tahu tentang belahan jiwa. Menurutku dia iseng bertanya itu kepadaku. Aku hanya tertawa dan menjawab, “mungkin aku percaya.” Iseng, aku menjawab karena tidak ingin dia melanjuti perbincangan kami. Yang menurutku hanya sekedar basa-basi pria ini.

Lalu dia menanyakan ku dengan tersenyum, “kenapa?” seolah-olah aku hanya anak ingusan dan tidak kenal dengan cinta. Memang aku belum tahu tentang belahan jiwa, tapi kalau cinta, ya sudah tahu lah. Sudah berkali-kali terjatuh karenanya.

Aku terdiam dan sebenarnya gerah dengan tatapan remehnya. Aku sempat melirik sekitarku, temanku sedang menutup matanya saat di semprot hairspray ke rambut hitamnya. Dia terlihat semakin anggun dengan sanggulannya. Aku pastikan dia sudah selesai di tata oleh stylist salon tersebut dan akan menuju kasir. Lalu aku melirik kembali ke pria yang sedaritadi menunggu jawabanku.

“Menurutku, soulmate itu tidak bisa dipisahkan dengan cinta dan waktu. Soulmate itu kokoh karena cinta, tapi dia hadir karena waktu. Soulmate itu tidak terkukung sampai akhir hayat, seumur hidup. Tapi lebih kepada jiwa kita yang menemukan belahan raganya, meskipun akhirnya kita bisa saja dipisahkan oleh waktu. Saat waktu merubah kita, jiwa kita pun berubah, apakah belahan raga kamu masih setia bersama kamu? Semuanya terserah kamu, di dunia ini semua nya bersifat sementara. ย Hati kamu lah yang memilih, mau bertahan atau melepaskan belahan jiwa mu yang mungkin juga sudah berubah.”

Aku menyapa temanku yang sudah selesai membayar dan berlalu pergi. Entahlah, apakah dia mengerti dengan jawabanku atau masih menertawakan keluguanku.

My soulmate version

My soulmate version ~ photo taken from here

Jakarta – 2005

Advertisements

2 thoughts on “Soulmate?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s