Cara Melupakan

Berkali-kali aku bertanya kepada seorang kakek yang mengaku tidak ingat apa-apa selain masa indahnya,

“Kek, bagaimana cara melupakan kenangan?”

Dan berkali-kali aku hanya mendapat gelengan kepalanya yang melemah.

Hari ini aku akan mendatangi lagi gubuknya yang terletak di tepian empang, tempat orang menyewa untuk memancing harapan. Harapan kecil hanya dianggap sampah dan dibuang kembali ke empang, kalau mereka berhasil memancing harapan besar, hasil pancingannya akan di bawa pulang ke rumah dan dipajang di depan rumah untuk diperlihatkan ke tetangga. Salah satu rumah yang aku lewati tadi berhasil memancing harapan besar yang berwarna keemas-emasan. Suara tetangga terdengar berbisik, “Anak perempuannya sedang mengadu nasib di kota besar, mungkin sebentar lagi mereka akan kaya.”

Semua penduduk di desa ini percaya akan keberuntungan, harapan dan masa depan, mungkin itu sebabnya desa ini dinamakan “Kampung Mimpi”. Aku yang datang dari desa sebelah ingin sekali pindah ke desa ini. Biarlah aku bermimpi sejenak dua jenak untuk merangkai masa depanku.

Aku bergegas menuju gubuk kakek karena matahari mulai mengantuk. Kali ini aku datang membawakan satu plastik jeruk manis yang dia sukai. Dia ingin mencicipi teh nya dengan manis jeruk. Aku sendiri belum pernah mencobanya.

Sore itu, Kakek duduk di kursi rotan depan rumahnya, dia menyukai permainan memancing yang disuguhkan di halamannya. Aku menyapanya yang sedang duduk terkekeh melihat seorang pemuda yang mendapat harapan kecil.

“Nak, ambil kursi di dalam dan duduk di sebelahku,” ujarnya dengan suara serak.

Aku masuk ke dalam rumahnya dan membuat dua gelas teh untuk dicicipi bersama jeruk manis yang ku bawa. Setelah itu aku keluar dengan mengangkut kursi rotan yang kecil dan duduk di sampingnya.

“Kek, ini teh dan jeruk. Sekarang, ajarkan aku cara menyeduhnya,” aku memperhatikan wajahnya yang tersenyum lebar melihatku membawa jeruk manis pesanannya.

Ia langsung membelah jeruk menjadi dua, memeras sari nya ke dalam gelas teh dan menuangkan teh tersebut ke dalam kulit jeruk lalu meminumnya. Aku terheran-heran melihatnya dengan cekatan menuangkan seteguk teh ke dalam kulit jeruk lalu meminumnya.

“Kau cobalah, Nak. Pahitnya tidak terasa, hanya manis,” ujarnya saat melihat aku hanya terbengong memperhatikannya.

Aku mencoba caranya dan kerepotan saat teh tersebut tumpah ketika aku menuangkan ke dalam kulit jeruk, lalu meminumnya. Rasanya beragam, pekat, manis dan pahit. Tapi aku suka, seperti meneguk kenangan saat kecil.

Kami lalu bernostalgia dengan kenangan yang disajikan di atas kulit jeruk dan memerhatikan semua orang yang berlomba-lomba mencari harapan.

“Kamu lihat di depan, semua orang konon katanya mencari harapan. Tapi langsung mengharapkan harapan yang besar, tanpa bisa menjaga harapan kecilnya dengan baik.”

“Tapi harapan besar kan bagus, Kek. Untuk apa berharap pada yang kecil-kecil kalau memang bisa langsung berharap pada yang besar?” tanyaku.

“Kamu ternyata sama aja, semua orang di sini suka yang instan. Mana ada di dunia ini langsung bisa mendapatkan apa yang kita harapkan dengan memancing. Memancing saja tidak cukup, kita harus berusaha dan memastikan bahwa diri kita sanggup untuk menghadapi semua cobaan, kecil, besar,” kakek menarik nafasnya yang terengah, “kalau kamu membuang harapan kecil dengan begitu gampang, apa kamu tidak takut jika harapan besarmu ternyata tidak sanggup kamu nikmati?” Kakek terlalu menggebu-gebu mengungkapkan kekesalannya.

Aku hanya diam dan berusaha memikirkan apa maksud dari perkataannya. Langit semakin memerah, sebentar lagi akan gelap dan aku hampir lupa akan tujuanku ke sini.

“Kek, aku tidak meminta harapan besar atau kecil. Aku hanya ingin tahu bagaimana cara melupakan kenangan?”

Dia mengangguk lemah. Aku merasa putus asa, sudah beberapa kali aku bolak-balik ke desa ini tapi belum menemukan jawabannya. Kenanganku yang begitu menghantui setiap langkahku semakin memberatkanku untuk melangkah. Aku takut tidur dan mendapati hari telah berganti tapi pikiranku tetap sama. Setiap malam aku berdoa untuk berusaha melupakan, supaya tidurku adalah obatku, tapi sia-sia. Aku masih mengingatnya, hatiku masih bersamanya. Seburuk apapun mimpiku, tidak lebih buruk dari kenyataan.

“Kamu tidak bisa,” kakek menatap wajahku yang hampir mendung.

“Kenapa?” tanyaku di sela-sela air mata yang berjatuhan.

“Kenangan itu akan ada terus. Selagi kamu punya waktu, selagi kamu masih hidup, dia akan terus ada.”

“Tapi kenapa kakek bisa? Kenapa Kakek hanya mempunyai kenangan indah? Kenapa Kakek tidak ingat tentang keburukan masa lalu?” tanyaku bertubi-tubi, juga air mataku.

Kakek terlihat mengambil nafas dalam, dia terlihat jenuh dengan rengekanku.

“Kamu harus tahu, kenangan itu tidak akan berubah. Kita yang berubah, pilihan, harapan,” Kakek menunjuk ke para pemancing, “dan waktu yang merubah kita. Bukan kenangan. Saya memilih untuk tidak melihat suatu kejadian buruk sebagai kejadian buruk, tapi hanya kejadian. Tidak ada yang indah, tidak ada yang jelek, semuanya itu adalah masa-masa hidup. Jangan terlalu fokus sama satu kata yang membedakan. Indah, tidak indah. Bagus, tidak bagus. Buruk, tidak buruk. Itu hanya kata,” ujarnya panjang lebar.

Aku mengambil kulit jeruk dan meminumnya kembali. Kali ini rasanya manis. Atau sebenarnya tidak ada rasa? Hanya kita yang terlalu fokus dengan kata-kata: manis, pahit, asam, sehingga kita lupa cara menikmatinya.

“Saya memilih kenangan-kenangan yang baik untuk saya nikmati. Bukan berarti saya tidak ingat kenangan-kenangan saya yang kurang baik, tapi saya memilih untuk tidak mengindahkannya. Pilihlah kenangan mana yang akan kamu bawa untuk keesokan harinya,” Kakek menatapku yang kini tersenyum dengan setetes air mata di ujung mataku.

Ternyata selama ini aku salah, aku membawa seonggok kenangan masa lalu dan membiarkannya menyeret langkah-langkahku. Aku tidak memilih, aku lupa memilih, aku terlalu sibuk menutup hatiku dengan lembaran-lembaran kosong.

Sometimes all we need is to just pick up the best memories and bring it to the next day, leave the bad memories behind.

 

picture taken from here

picture taken from here

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s