That one good laugh

Sometimes, all we need is one good laugh. So, I’ll remember it and still laugh at it when I’m crying. 

I remember in 2009, me and my sister were driving around the small city, where the famous Nasi Padang comes from. We said to our mom that we would be back before noon. We dressed up, brought our camera and music playlist in a flash drive.

I asked my sister, “where are we going?”, she shook her head and made a smirk. Actually, we didn’t know where to go, we just wanted to go out. Out of the problems, out of the messed, out of all the bewildered situation that we faced. Our Dad was lying in bed, been sick for couple of months. We forced ourselves to know his sickness, to take care, to fully understand the situation. It was confusing and extremely painful.

30 minutes left, we make a turn to the nearest beach and parked our car just as close to the shore, so we could feel the wind and the ocean breezes, we thought the wind could take away all the pain inside.

My sister start to tell a joke. A joke about “how rich”, “how lucky”, “how blessed” we are. It was never meant to be this way, we know we could have done more. We know our Dad was a strong man. But, what’s better in God’s way? We just know, us and Dad, could survive this. It was just a small stone in our life. Last thing I know, we started laughing. It’s not a normal hahaha-I-just-want-to-laugh, it was hahaha-our-life-is-so-screwed-up-but-we-still-alive kind of laugh!!

It lasted for 10 or 15 minutes, we kept laughing, every words came out of our mouth sound so hilarious. Until we hit the silent laugh, it’s when you know you still laughing but you can’t hear any sound. My stomach hurt and my cheeks feels so stiff.

Few minutes later, tears started to filled my eyes, so does my sister. We started to cry.

Sometimes, crying can help you ease your pain away. And when you don’t know when to stop, remind yourself of that one good laugh. 

Advertisements

This morning..

Kadang matahari lupa untuk bersinar terang di pagi hari,
Kadang awan hitam yang menggulung datang menyelimuti,
Tapi aku selalu ingin bersamamu.. Di gelapnya pagi, di terangnya hati.

~ this morning, I sent this small love note to my boyfriend. Hours after that, we had an argument. A silly argument about a morning talk.

but I still want him.

Cara Melupakan

Berkali-kali aku bertanya kepada seorang kakek yang mengaku tidak ingat apa-apa selain masa indahnya,

“Kek, bagaimana cara melupakan kenangan?”

Dan berkali-kali aku hanya mendapat gelengan kepalanya yang melemah.

Hari ini aku akan mendatangi lagi gubuknya yang terletak di tepian empang, tempat orang menyewa untuk memancing harapan. Harapan kecil hanya dianggap sampah dan dibuang kembali ke empang, kalau mereka berhasil memancing harapan besar, hasil pancingannya akan di bawa pulang ke rumah dan dipajang di depan rumah untuk diperlihatkan ke tetangga. Salah satu rumah yang aku lewati tadi berhasil memancing harapan besar yang berwarna keemas-emasan. Suara tetangga terdengar berbisik, “Anak perempuannya sedang mengadu nasib di kota besar, mungkin sebentar lagi mereka akan kaya.”

Semua penduduk di desa ini percaya akan keberuntungan, harapan dan masa depan, mungkin itu sebabnya desa ini dinamakan “Kampung Mimpi”. Aku yang datang dari desa sebelah ingin sekali pindah ke desa ini. Biarlah aku bermimpi sejenak dua jenak untuk merangkai masa depanku.

Aku bergegas menuju gubuk kakek karena matahari mulai mengantuk. Kali ini aku datang membawakan satu plastik jeruk manis yang dia sukai. Dia ingin mencicipi teh nya dengan manis jeruk. Aku sendiri belum pernah mencobanya.

Sore itu, Kakek duduk di kursi rotan depan rumahnya, dia menyukai permainan memancing yang disuguhkan di halamannya. Aku menyapanya yang sedang duduk terkekeh melihat seorang pemuda yang mendapat harapan kecil.

“Nak, ambil kursi di dalam dan duduk di sebelahku,” ujarnya dengan suara serak.

Aku masuk ke dalam rumahnya dan membuat dua gelas teh untuk dicicipi bersama jeruk manis yang ku bawa. Setelah itu aku keluar dengan mengangkut kursi rotan yang kecil dan duduk di sampingnya.

“Kek, ini teh dan jeruk. Sekarang, ajarkan aku cara menyeduhnya,” aku memperhatikan wajahnya yang tersenyum lebar melihatku membawa jeruk manis pesanannya.

Ia langsung membelah jeruk menjadi dua, memeras sari nya ke dalam gelas teh dan menuangkan teh tersebut ke dalam kulit jeruk lalu meminumnya. Aku terheran-heran melihatnya dengan cekatan menuangkan seteguk teh ke dalam kulit jeruk lalu meminumnya.

“Kau cobalah, Nak. Pahitnya tidak terasa, hanya manis,” ujarnya saat melihat aku hanya terbengong memperhatikannya.

Aku mencoba caranya dan kerepotan saat teh tersebut tumpah ketika aku menuangkan ke dalam kulit jeruk, lalu meminumnya. Rasanya beragam, pekat, manis dan pahit. Tapi aku suka, seperti meneguk kenangan saat kecil.

Kami lalu bernostalgia dengan kenangan yang disajikan di atas kulit jeruk dan memerhatikan semua orang yang berlomba-lomba mencari harapan.

“Kamu lihat di depan, semua orang konon katanya mencari harapan. Tapi langsung mengharapkan harapan yang besar, tanpa bisa menjaga harapan kecilnya dengan baik.”

“Tapi harapan besar kan bagus, Kek. Untuk apa berharap pada yang kecil-kecil kalau memang bisa langsung berharap pada yang besar?” tanyaku.

“Kamu ternyata sama aja, semua orang di sini suka yang instan. Mana ada di dunia ini langsung bisa mendapatkan apa yang kita harapkan dengan memancing. Memancing saja tidak cukup, kita harus berusaha dan memastikan bahwa diri kita sanggup untuk menghadapi semua cobaan, kecil, besar,” kakek menarik nafasnya yang terengah, “kalau kamu membuang harapan kecil dengan begitu gampang, apa kamu tidak takut jika harapan besarmu ternyata tidak sanggup kamu nikmati?” Kakek terlalu menggebu-gebu mengungkapkan kekesalannya.

Aku hanya diam dan berusaha memikirkan apa maksud dari perkataannya. Langit semakin memerah, sebentar lagi akan gelap dan aku hampir lupa akan tujuanku ke sini.

“Kek, aku tidak meminta harapan besar atau kecil. Aku hanya ingin tahu bagaimana cara melupakan kenangan?”

Dia mengangguk lemah. Aku merasa putus asa, sudah beberapa kali aku bolak-balik ke desa ini tapi belum menemukan jawabannya. Kenanganku yang begitu menghantui setiap langkahku semakin memberatkanku untuk melangkah. Aku takut tidur dan mendapati hari telah berganti tapi pikiranku tetap sama. Setiap malam aku berdoa untuk berusaha melupakan, supaya tidurku adalah obatku, tapi sia-sia. Aku masih mengingatnya, hatiku masih bersamanya. Seburuk apapun mimpiku, tidak lebih buruk dari kenyataan.

“Kamu tidak bisa,” kakek menatap wajahku yang hampir mendung.

“Kenapa?” tanyaku di sela-sela air mata yang berjatuhan.

“Kenangan itu akan ada terus. Selagi kamu punya waktu, selagi kamu masih hidup, dia akan terus ada.”

“Tapi kenapa kakek bisa? Kenapa Kakek hanya mempunyai kenangan indah? Kenapa Kakek tidak ingat tentang keburukan masa lalu?” tanyaku bertubi-tubi, juga air mataku.

Kakek terlihat mengambil nafas dalam, dia terlihat jenuh dengan rengekanku.

“Kamu harus tahu, kenangan itu tidak akan berubah. Kita yang berubah, pilihan, harapan,” Kakek menunjuk ke para pemancing, “dan waktu yang merubah kita. Bukan kenangan. Saya memilih untuk tidak melihat suatu kejadian buruk sebagai kejadian buruk, tapi hanya kejadian. Tidak ada yang indah, tidak ada yang jelek, semuanya itu adalah masa-masa hidup. Jangan terlalu fokus sama satu kata yang membedakan. Indah, tidak indah. Bagus, tidak bagus. Buruk, tidak buruk. Itu hanya kata,” ujarnya panjang lebar.

Aku mengambil kulit jeruk dan meminumnya kembali. Kali ini rasanya manis. Atau sebenarnya tidak ada rasa? Hanya kita yang terlalu fokus dengan kata-kata: manis, pahit, asam, sehingga kita lupa cara menikmatinya.

“Saya memilih kenangan-kenangan yang baik untuk saya nikmati. Bukan berarti saya tidak ingat kenangan-kenangan saya yang kurang baik, tapi saya memilih untuk tidak mengindahkannya. Pilihlah kenangan mana yang akan kamu bawa untuk keesokan harinya,” Kakek menatapku yang kini tersenyum dengan setetes air mata di ujung mataku.

Ternyata selama ini aku salah, aku membawa seonggok kenangan masa lalu dan membiarkannya menyeret langkah-langkahku. Aku tidak memilih, aku lupa memilih, aku terlalu sibuk menutup hatiku dengan lembaran-lembaran kosong.

Sometimes all we need is to just pick up the best memories and bring it to the next day, leave the bad memories behind.

 

picture taken from here

picture taken from here

Soulmate?

Pernah ada yang menanyakan padaku, “kamu percaya dengan soulmate?”

Aku memperhatikan seorang pria yang lebih tua dari ku, berperawakan chinese dan tinggi, yang melontarkan pertanyaan itu kepadaku. Dia bekerja sebagai make up artist di salon yang aku datangi saat itu. Aku gak tahu apa dia sekedar berbasa-basi atau memang hobi menanyakan pertanyaan ke orang yang baru dikenal atau memang benar-benar ingin tahu jawabannya. Kata temanku, dia sudah pernah menikah dan sudah cerai. Jadi apa dia menanyakan maksud dari hidupnya selama ini kepadaku? Kepadaku? Entahlah.

Saat itu aku berumur 19 tahun, tahu apa aku tentang soulmate? Jajan aja masih minta sama orang tua, masa udah tahu tentang belahan jiwa. Menurutku dia iseng bertanya itu kepadaku. Aku hanya tertawa dan menjawab, “mungkin aku percaya.” Iseng, aku menjawab karena tidak ingin dia melanjuti perbincangan kami. Yang menurutku hanya sekedar basa-basi pria ini.

Lalu dia menanyakan ku dengan tersenyum, “kenapa?” seolah-olah aku hanya anak ingusan dan tidak kenal dengan cinta. Memang aku belum tahu tentang belahan jiwa, tapi kalau cinta, ya sudah tahu lah. Sudah berkali-kali terjatuh karenanya.

Aku terdiam dan sebenarnya gerah dengan tatapan remehnya. Aku sempat melirik sekitarku, temanku sedang menutup matanya saat di semprot hairspray ke rambut hitamnya. Dia terlihat semakin anggun dengan sanggulannya. Aku pastikan dia sudah selesai di tata oleh stylist salon tersebut dan akan menuju kasir. Lalu aku melirik kembali ke pria yang sedaritadi menunggu jawabanku.

“Menurutku, soulmate itu tidak bisa dipisahkan dengan cinta dan waktu. Soulmate itu kokoh karena cinta, tapi dia hadir karena waktu. Soulmate itu tidak terkukung sampai akhir hayat, seumur hidup. Tapi lebih kepada jiwa kita yang menemukan belahan raganya, meskipun akhirnya kita bisa saja dipisahkan oleh waktu. Saat waktu merubah kita, jiwa kita pun berubah, apakah belahan raga kamu masih setia bersama kamu? Semuanya terserah kamu, di dunia ini semua nya bersifat sementara.  Hati kamu lah yang memilih, mau bertahan atau melepaskan belahan jiwa mu yang mungkin juga sudah berubah.”

Aku menyapa temanku yang sudah selesai membayar dan berlalu pergi. Entahlah, apakah dia mengerti dengan jawabanku atau masih menertawakan keluguanku.

My soulmate version

My soulmate version ~ photo taken from here

Jakarta – 2005

14.02.13

“if you meet a loner, no matter what they may tell you, it’s not because they enjoy solitude. It’s because they have tried to blend into the world before, and people continue to disappoint them”

– Jodi Picoult, My Sister’s Keeper.

Photo taken from here

Photo taken from here

Dear @lionychan

Dear My Favorite Post Lady,

Bahagia selalu ya tanpa jeda! Post kamu beserta teammu sukses membuatku iri. Kemarin di suratku, aku pernah menulis bahwa sabar itu penyakit menular. Ternyata bahagia juga. Setelah membaca suratmu, aku jadi kepengen bergabung dalam team mu atau mungkin sekedar merasakan kesenangan di dalam pengalaman seru kalian. Semoga tercapai semua impian dan mimpi-mimpi nya ya!

Terima kasih! Aku merasa itu terlalu sederhana, tapi sementara ini hanya itu yang bisa aku ucapkan. Aku juga ingin bertemu denganmu di gathering #30HariMenulisSuratCinta, kita akan bertukar cerita, kamu akan berbagi kebahagianmu dan aku akan membawakanmu satu set masker strawberry dan timun. Kenapa? Karena aku tahu kamu pasti lelah dan pusing membaca surat-surat yang bertumpukan masuk ke mention twittermu. Lalu kamu berkeliling di lini masa mengantarkan surat-surat itu kepada dunia twitter. Aku ingin memanjakan hari-harimu setelah lelah berkeliling selama 30 hari. Bagaimana? Setuju? ^^,

Tapi maaf, itu hanya impianku. Aku sedang berada di ujung utara Indonesia, kota yang tidak kalah indah dengan Bandung, hanya disini agak panas. Kabari saja kalau kamu berkunjung ke kota ku, I’ll be your favorite guide! 😉

As for now, terima kasih untuk keramahanmu, untuk setiap tweet yang kamu balas, untuk membaca surat-surat yang kutulis dan mempostingnya di blog Pos Cinta. Terima kasih atas pos hari ini di blogmu, semoga… semoga kita bertemu di event selanjutnya. 🙂

Dan aku juga berharap kamu dikelilingi oleh penulis-penulis surat yang lain dan berbagi kebahagianmu kepada mereka.

Gathering #30HariMenulisSuratCinta

Loves,

-@donagotwit

Hello

Dear,

Will you hear my story?

Setiap hari aku mengetik hanya untuk memastikan bahwa kamu membaca suratku, kisah-kisah lamaku. Beginilah aku. Beginilah kisah ku, maukah kamu mendengarkannya?

Aku pernah begitu terluka hingga saat seseorang berbicara cinta, aku diam seribu bahasa. Adakah aku akan bahagia merangkai kata? Atau menyanyikan puisi cinta saat menyambut pagi. Atau hanya berani membeli buku cinta tanpa membuka lembaran demi lembaran.

Demi kamu, aku mencoba mengungkit satu persatu kisah lama. Biarlah kubuka lagi pintu-pintu berkarat yang dulu kukunci dengan gembok raksasa. Dan menghirup pahitnya udara masa lalu. Dalam selembar surat, aku beranikan diri untuk menoreh setiap luka dan setiap cinta yang terpenjara di hatiku. Akankah kamu mengunjunginya?

Untuk Bosse, yang telah melepaskanku dari aku yang dulu.

Shall we meet?

Salam kenal,

-little zee

What If…

Dear My What If…

What if … we are meant to last together? 

What if… we should hold hands and never let go? 

What if… I should call you the last time we ended it? 

What if… I say sorry and we forget all about it? 

The last time we spoke, there were not a single love came out of our mouth. You hold my hands, we blankly stared at each other, we were so close, we were drowning in each’s mind, but it felt so wrong. The distance were right in front of us, no one wanted to break it. Not even a single hug. And it just ended.

It just a big question mark in my heart, what if? 

Once Yours.

Tiga Tahun Pertama

3 tahun sejak kita pisah,  kembali ke kotamu. Kota dimana pertama kali kamu menemukan cinta sejatimu. Kota yang penuh dengan kenangan tentangmu, tentang kita.
Tidak perlu berlama-lama untuk beradaptasi disini, meskipun sudah belasan tahun tidak pulang, tapi kita sudah bersahabat dengan angan, aroma dan belaian. Kita semua pernah merasakan cinta yang penuh di sini. Apa kabar kamu di sana?

Anak pertama mu sekarang sibuk mengikuti jejakmu. Dia lincah memainkan jari-jarinya menciptakan berbagai macam bentuk imajinasi di dalam pikiran. Angannya untuk menjadi sukses tidak pernah pudar, pun dengan bayanganmu. “Beranilah bermimpi, karena semua kesuksesan datangnya dari mimpi.” Itu yang sempat kamu bilang ke dia dan kita semua. Semua mimpi-mimpi nya kini terlentang di atas langit-langit kamarnya, dia akan segera menuju ke sana. Aku percaya itu.

Begitu juga dengan putri kesayanganmu, dia sedang menjahit mimpi-mimpi nya dengan 1001 macam kreatifitas yang dimilikinya. Seperti yang kamu tahu, yang kita tahu, tidak ada satu pun yang luput dari pandangannya agar menghasilkan sebuah karya. Entahlah, dia memang mirip sekali denganmu. Begitu pun rupa dan gigihnya. Seolah sosokmu selalu hadir dalam dirinya. Menurutmu?

Dan Kekasihmu,

Kekasih dari hati kita semua, dia selalu kelihatan begitu cantik. Tidak ada kesendirian dalam hidupnya, aku pastikan itu. Tertawa bersamanya, menangis mengusap pipinya dan berlutut memohon ampun kepadanya, tidak pernah puas akan kehadirannya.

Tentangku? Suatu nanti, aku akan menceritakannya langsung saat bertemu kamu, Pa. Seperti biasa, aku akan membuatkanmu kopi pahit, duduk di pinggir awan sambil memandang ke arah lampu-lampu kota yang menghiasi bumi. Kamu akan memakai jaket kulit coklat muda kesukaanmu dan aku akan menggunakan sweater pink pemberianmu.

Surga itu sejuk kan?

Kisses and misses,

Your little daughter.

Menikmati Kita

Dear Sayang,

Maaf.
Hanya kata itu yang keluar dari mulutku.
Aku tahu kita jenuh,
mulai bosan akan kata-kata,
dan gerah akan tindakan,
kita seolah-olah dipertanyakan.

Semalam adalah makan malam kita untuk kesekian kalinya. Suaramu mendengung di telinga, di kepala dan di pikiranku. Mungkin kita terlalu lama bersama. Mungkin kita lupa akan kesendirian.

Berkali-kali kita coba memperbaiki makna, yang kita tahu hanya rasa. Rasa itu memudar, seperti tinta yang dicelupkan berkali-kali ke dalam air. Aku kehabisan napas, tenggelam oleh kata-kata rindu. Dan sayang itu membuatku hanyut. Mungkin kita terlalu lama bersama. Mungkin kita telah lupa menikmati kesendirian.

Sayang, itulah kita semalam.
Berkali-kali hilang dalam diam dan semangkuk bakso terlihat begitu istimewa, dibandingkan kamu malam itu. Apakah kamu dan aku hilang dalam tanya? Atau kita hanya berusaha menikmati kesendirian dalam genggaman?

Entahlah.

Satu yang pasti, meskipun berkali-kali kita memudar,
ataupun berkali-kali kesendirian kita terjaga,
aku tetap ingin menikmatinya bersamamu.
Menikmati makan malam, pagi dan siang bersamamu.

Always yours. 

PS: Will you join me for dinner tonight?